MENGAPA RAMADHĀN TERASA BIASA بسم الله الرحمن الرحيم الحمد الله والصلاة والسل…

[ad_1]

MENGAPA RAMADHĀN TERASA BIASA

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد الله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة أما بعد

Sahabat Bimbingan Islām yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Alhamdulillāh, Allāh Subhānahu wa Ta'āla masih memberikan kesempatan kepada kita, untuk bertemu dengan bulan Ramadhān.

Akan tetapi mengapa ketika bulan Ramadhān tiba, kita tetap merasa biasa, seakan-akan tidak ada sensasi di dalam diri kita untuk mempersembahkan ibadah terbaik kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla?

Kenapa hal tersebut bisa terjadi?

Ternyata, ketika kita sudah sering bersinggungan dengan suatu hal maka sensitifitas kita (kepekaan kita) terhadap hal tersebut akan menurun.

Sebagai contoh:

Ketika kita melewati TPS (Tempat Pembuangan Sampah) pasti kita akan mencium bau yang sangat tidak sedap, bahkan tidak sedikit yang ingin muntah karena baunya.

Kenapa?

Karena kita belum terbiasa.

Akan tetapi para tukang sampah, para pengangkut sampah, mengapa mereka bisa menahan bau yang sangat tidak sedap tersebut?

Mengapa?

Karena mereka sudah terbiasa.

Begitu pula dengan seorang yang baru pertama kali melihat Ka'bah, bisa dipastikan orang tersebut akan meneteskan air mata harunya, akan tetapi ketika kita melihat orang yang berkali-kali melihat Ka'bah seakan-akan sudah tidak ada rasa haru lagi, sudah tidak ada tangisan dan air mata lagi.

Dan hal tersebut pernah dikatakan oleh sebagian ulamā.

Ternyata:

كثرة المساس تميت الإحساس

_"Seringnya interaksi (bersinggungan) akan mematikan sensitifitas."_

Hal seperti ini sangat berbahaya jika terjadi dengan bulan Ramadhān.

√ Sangat berbahaya ketika kita sudah menganggap Ramadhān biasa saja.

√ Sangat berbahaya jika sensitifitas kita dalam menyambut Ramadhān telah tiada.

Mungkin, karena di antara kita ini adalah Ramadhān yang kelima belasnya. Mungkin ini Ramadhān yang kedua puluh, tiga puluh, empat puluh bahkan ini adalah Ramadhān yang lebih dari itu semua.

Hal ini berbahaya karena Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah bersabda:

"Celaka seseorang!"

Coba kita renungkan.

Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam adalah manusia mulia. Beliau manusia yang sangat penyantun, Beliau adalah manusia yang sangat berkasih sayang. Bahkan saat disakiti oleh kaumnya Beliau hanya mengatakan, "Yā Allāh, ampunilah kaumku, karena mereka tidak tahu."

Seorang Nabi yang sangat penyantun itu sekarang mengatakan, "Celaka seseorang itu!"

Ini menunjukkkan sangat keterlaluannya perbuatan orang itu.

Apa yang dilakukan orang ini, sehingga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam sangat keras sekali dengannya?

Orang itu adalah:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

_"Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhān kemudian Ramadhān berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni."_

Oleh karena itu, salah satu resep agar Ramadhān menjadi berarti, agar kita giat (bersemangat) beribadah pada bulan yang penuh berkah ini (Ramadhān), salah satu caranya adalah dengan menanamkan doktrin dalam diri kita.

Apa doktrinnya?

Katakan dalam diri kita:

"Ini adalah Ramadhān terakhir kita"

Jangan pernah kita menyangka umur kita masih panjang, karena ada orang yang tidak sakit tiba-tiba tiada dan ada orang yang sudah sakit bertahun-tahun lamanya namun sampai sekarang masih bisa menghirup udara.

Tidak ada yang bisa menjamin umur seseorang. Dengan doktrin (menanamkan dalam diri kita) bahwa ini adalah Ramadhān terakhir kita, In syā Allāh, kita akan bisa mempersembahkan ibadah terbaik pada bulan yang mulia ini.

Dalam rangka mencari bekal mengharap ridhā Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Bakar bin Abdillāh Al Muzzanīy rahimahullāh berkata:

إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَنْفَعَكَ صَلَاتُكَ فَقُلْ : لَعَلِّي لَا أُصَلِّي غَيْرَهَا

_"Jikalau engkau ingin, shalātmu memberikan manfaat kepadamu, maka katakanlah (ketika shalāt itu), mungkin ini adalah shalāt terakhirku.""

Jika menanamkan prasangka ini adalah shalāt yang terakhir, membuat shalāt kita lebih baik sebagaimana perkataan Bakar bin Abdillāh Al Muzzanīy rahimahullāh tadi, maka puasapun demikian.

Dengan menanamkan prasangka atau doktrin bahwa ini adalah "Ramadhān terakhir kita," in syā Allāh kita akan bisa menjadikan Ramadhān kita menjadi Ramadhān yang penuh arti.

Semoga bermanfaat dan semoga Ramadhān ini menjadi Ramadhān terbaik sepanjang sejarah kehidupan kita.

Walaupun Ramadhān sudah sering menghampiri kita, semoga kita masih bisa bersemangat untuk mempersembahkan yang terbaik yang kita mampu.

Wallāhu Ta'āla A'lam Bishshawāb.

وصلى الله على نبينا محمد

[ad_2]

Sumber

MUSTAJAB DOA ORANG YANG BERPUASA Nabi Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda, ﺛ…

[ad_1]

MUSTAJAB DOA ORANG YANG BERPUASA

Nabi Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

ﺛﻼﺙ ﻻ ﺗﺮﺩ ﺩﻋﻮﺗﻬﻢ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﻔﻄﺮ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﺎﺩﻝ ﻭ ﺍﻟﻤﻈﻠﻮﻡ

‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzhalimi.”[HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi]

Di dalam riwayat yang lain.

ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻻَ ﺗُﺮَﺩُّ ﺩَﻋْﻮَﺗُﻬُﻢُ ﺍﻹِﻣَﺎﻡُ ﺍﻟْﻌَﺎﺩِﻝُ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﺋِﻢُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻔْﻄِﺮَ ﻭَﺩَﻋْﻮَﺓُ ﺍﻟْﻤَﻈْﻠُﻮﻡِ ‏

“Ada tiga do’a yang tidak tertolak: (1) doa pemimpin yang adil, (2) doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) doa orang yang terzhalimi.”[HR. Tirmidzi no. 3595, Ibnu Majah no. 1752. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya no. 2408 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar].

An-Nawawi menjelaskan,

ﻳﺴﺘﺤﺐّ ﻟﻠﺼﺎﺋﻢ ﺃﻥ ﻳﺪﻋﻮ ﻓﻲ ﺣَﺎﻝِ ﺻَﻮْﻣِﻪِ ﺑِﻤُﻬِﻤَّﺎﺕِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻭَﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻪُ ﻭَﻟِﻤَﻦْ ﻳُﺤِﺐُّ ﻭَﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ

“Dianjurkan bagi orang yang berpuasa untuk berdoa sepanjang waktu puasanya (selama ia berpuasa) dengan doa-doa yang sangat penting bagi urusan akhirat dan dunianya, bagi dirinya, bagi orang yang dicintai dan untuk kaum muslimin.”[ Syarh Al-Muhaddzab An-Nawawi]

Ini juga salah satu kebahagiaan ketika berbuka puasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

للصائم فرحتان : فرحة عند فطره و فرحة عند لقاء ربه

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya kelak.”[HR. Muslim, no.1151]

Namun jangan lupa untuk membaca doa sebelum makan cukup sekadar basmalah sebagaimana
Nabi Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”. (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

.
Terdapat sebuah hadits shahih tentang doa berbuka puasa, yang diriwayatkan dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah-ed.”
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki](Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678) [Syarah Hisnul Muslim, bab Dua’ ‘inda Ifthari ash-Shaim, hadits no. 176]

Like dan share semoga lebih ramai mendapat manfaat. Selamat beramal!

[ad_2]

Sumber

PAHALA AMALAN DILIPAT GANDA PADA BULAN RAMADHAN Berdasarkan hadits yang tertera…

[ad_1]

PAHALA AMALAN DILIPAT GANDA PADA BULAN RAMADHAN

Berdasarkan hadits yang tertera dalam kitab ash-Shahiihain dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhhu:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ…

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku. Akulah yang akan mengganjarnya…’”

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي.

“Setiap amal yang dilakukan anak Adam akan dilipatgandakan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Lalu Allah Azza wa Jalla berfirman, “Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang memberi ganjarannya. Orang yang berpuasa meninggalkan syahwat dan makannya demi Aku semata.” [Shahih Muslim (II/807) Kitaabush Shiyaam bab Fadhlush Shiyaam]

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Firman Allah Ta’ala yang menyatakan, ‘Dan Aku-lah yang memberi ganjarannya,’ merupakan penjelasan yang nyata tentang kebesaran karunia Allah dan melimpahnya balasan pahala-Nya karena sesungguhnya orang yang mulia dan dermawan jika mengabarkan bahwa dia sendiri yang akan menanggung balasannya, ini menunjukkan betapa besar kadar balasan yang dia persembahkan dan betapa luas pemberian yang Dia berikan.” [ Syarhun Nawawi li Shahiih Muslim (VIII/29)]

Semoga menjadi motivasi untuk kita memperbanyak amalan di dalam bulan Ramadhan.

===========================

Sekiranya anda ingin menjadi sebahagian team dakwah GAD, jom menyumbang kepada usaha dakwah ini walau sedikit demi memastikan iainya terus berjalan dan semoga rahmat Allah bersama kita semua.
Infaq anda boleh terus disalurkan melalui link berikut :

https://ghulamaldakwah.com/donations/tabung-infaq-kebajikan/

#GhulamAlDakwah


[ad_2]

Sumber

Keistimewaan Bulan Ramadhan . Sesungguhnya Allah Ta’ala mengkhususkan bulan …

[ad_1]

Keistimewaan Bulan Ramadhan

.
Sesungguhnya Allah Ta’ala mengkhususkan bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya dengan keutamaan yang agung dan keistimewaan yang banyak. Allah Ta’ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

.
Di dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala menyebutkan dua keistimewaan bulan Ramadhan yang agung, yaitu:

.
Keistimewaan pertama, diturunkannya Al-Qur’an di dalam bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dengan kitab ini, Allah memperlihatkan kepada mereka kebenaran (al-haq) dari kebatilan. Kitab yang di dalamnya terkandung kemaslahatan (kebaikan) dan kebahagiaan (kemenangan) bagi umat manusia, serta keselamatan di dunia dan di akhirat.

.
Keistimewaan ke dua, diwajibkannya berpuasa di bulan tersebut kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika Allah Ta’ala memerintahkan hal tersebut dalam firman-Nya (yang artinya),” Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

.
Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam [1], di antara kewajiban yang Allah Ta’ala wajibkan, dan telah diketahui dengan pasti bahwa puasa Ramadhan adalah bagian dari agama, serta berdasarkan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin. Barangsiapa yang mengingkarinya (kewajiban puasa Ramadhan), maka dia telah kafir.

.
Barangsiapa yang berada di negeri tempat tinggalnya (mukim atau tidak bepergian) dan sehat, maka wajib menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya),” Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. Al-Baqarah [2]: 185) Dan barangsiapa yang bepergian (musafir) atau sakit, maka wajib baginya mengganti puasa di bulan yang lain, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

.
Dari sini jelaslah bahwa tidak ada keringanan untuk tidak berpuasa di bulan tersebut, baik dengan menunaikannya di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan kecuali bagi orang yang sudah tua renta atau orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya. Kedua kelompok tersebut tidaklah mampu berpuasa, baik di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan. Bagi keduanya terdapat hukum (aturan) lain yang akan datang penjelasannya, in syaa Allah.

.
Dan termasuk di antara keutamaan bulan Ramadhan adalah apa yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Jika bulan Ramadhan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu” [2]

.
Hadits ini menunjukkan atas keistimewaan yang agung dari bulan yang penuh berkah ini, yaitu,

.
Pertama, dibukanya pintu-pintu surga di bulan Ramadhan. Hal ini karena banyaknya amal shalih yang disyariatkan di bulan tersebut yang menyebabkan masuknya seseorang ke dalam surga. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan” (QS. An-Nahl [16]: 32).

.
Kedua, ditutupnya pintu-pintu neraka di bulan ini, disebabkan oleh sedikitnya maksiat yang dapat memasukkan ke dalam neraka, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39)

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)” (QS. An-Nazi’at [79]: 37-39).

Dan juga firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya” (QS. Jin [72]: 23).

.
Ketiga, setan-setan dibelenggu di bulan Ramadhan. Setan tidak mampu untuk menggoda (menyesatkan) manusia, menjerumuskan manusia dalam kemaksiatan, atau memalingkan manusia dari amal shalih, sebagaimana yang setan lakukan di selain bulan Ramadhan. Tercegahnya manusia -di bulan yang penuh berkah ini- dari melakukan berbagai hal yang keji merupakan rahmat untuk kaum muslimin, sehingga mereka pun memiliki kesempatan untuk mengerjakan berbagai amal kebaikan dan menghapus dosa-dosa mereka.

.
Dan termasuk dalam keutamaan bulan yang penuh berkah ini adalah dilipatgandakannya amal kebaikan di dalamnya. Diriwayatkan bahwa amalan sunnah di bulan Ramadhan memiliki pahala yang sama dengan amal wajib. Satu amal wajib yang dikerjakan di bulan ini setara dengan 70 amal wajib. Barangsiapa yang memberi buka puasa untuk seorang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka, dan baginya pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala oarang yang berpuasa tersebut sedikit pun.

.
Semua kebaikan, berkah, dan anugerah ini diberikan untuk kaum muslimin dengan datangnya bulan yang penuh berkah ini. Oleh karena itu, hendaklah kaum muslimin menyambut bulan ini dengan kegembiraan dan keceriaan, memuji Allah yang telah mempertemukannya (dengan bulan Ramadhan), dan meminta pertolongan kepada-Nya untuk dapat berpuasa dan mengerjakan berbagai amal shalih di bulan Ramadhan.

.
Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan yang agung dan mulia, bulan yang penuh berkah bagi umat Islam. Kami memohon kepada Allah Ta’ala untuk menganugerahkan keberkahan bulan Ramadhan kepada kami. [3]

Catatan kaki:
[1] Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara, (1) syahadat bahwasannya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; (2) mendirikan shalat; (3) menunaikan zakat; (4) berhaji; dan (5) puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 7 dan Muslim no. 16)

[2] HR. Bukhari no. 1898, 1899 dan Muslim no. 1079.

[3] Diterjemahkan dari: Ithaaf Ahlil Imaan bi Duruusi Syahri Ramadhan, karya Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Daar ‘Ashimah Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1422, hal. 135-137.

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/25761-keistimewaan-bulan-ramadhan.html


[ad_2]

Sumber

Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelum. [Keberkatan Sah…

[ad_1]

Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelum.

[Keberkatan Sahur: Masa terbaik Untuk Istighfar]

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)
Pada waktu sahur, mereka memohon keampunan/beristighfar

Gunalah waktu bersahur untuk memohon keampunan Allah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
Abu Hurairah radiallahu 'anhu berkata: Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثَاهُ يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ
Apabila telah berlalu separuh atau dua pertiga malam. Allah Turun ke langit dunia. Lalu Dia berkata:

هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى
Adakah sesiapa yang meminta agar dapat diberikan?

هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ
Adakah sesiapa yang berdoa agar dapat dikabulkan?

هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ
Adakah sesiapa yang memohon keampunan agar dapat diampuni?

حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ
sehinggalah masuk waktu Subuh.
[Sahih Muslim, Kitab al-Solat, hadis no: 1658]

[ad_2]

Sumber

Tonton Video

[ad_1]

Live !!!
🏷Tadabbur Al Quran

Disampaikan oleh :
Ustaz Abd Muein Abd Rahman

🔖 Tajuk :Tadabbur surah Al Kahf ayat 50-54

🗓 Tarikh : 2 Mei 2019
🕰 Masa : 5:00 pm

🎥 Link Facebook :
https://www.facebook.com/ghulamaldakwahofficial/videos/392188218299932/

===============

Salurkan Infaq anda bagi memastikan usaha dakwah ini terus berjalan. Infaq anda boleh terus disalurkan melalui link berikut :

https://ghulamaldakwah.com/donations/tabung-infaq-kebajikan/

Subscribe & follow us on :
->Facebook page
->YouTube
->Instagram
🌐 www.ghulamaldakwah.com

.
#MelahirkanDuatMenyebarkanIslam
#GhulamAlDakwah

[fb_vid id=”photo_id”:”645646552574764″”][fb_vid id=”645646552574764″]
[ad_2]

Sumber

Tonton Video

[ad_1]

[fb_vid id=”photo_id”:”392188218299932″”][fb_vid id=”392188218299932″]
[ad_2]

Sumber

Alamat

No. 8-1,
Suria Jelutong 1,
Jalan Bazar, U8/99, Bukit Jelutong,
40150 Shah Alam, Selangor,
Malaysia

Whatsapp : 019 868 2015

Visi Ghulam

Melahirkan Du’at
Menyebarkan Islam

Live Streaming

Hakcipta Terpelihara © 2022 Pertubuhan Ghulam Al Dakwah Selangor